Ketika menjadi working mom, rutinitas saya akhirnya berubah, hampir 180° berubah. Mulai dari jadwal bangun pagi, kegiatan bersama Lana yang berkurang kuantitasnya, jarang ngeblog, dan jarang browsing lagi. Padahal semenjak Iyay menjadi working dad yang dulu-nya sebagai SAHD, leptopnya diwariskan ke saya dengan maksud yaa supaya saya tetap masih bisa browsing, ngeblog, dan ber-social networking. Tapi tetap aja, kalau udah pulang kerumah, maen sama Lana, ngelonin sampai tidur, makan dan ikutan tidur :)
Namun yang selalu menjadi dilemma hingga saat ini, adalah perasaan berat meninggalkan Lana di daycare. Ketika memutuskan untuk menjadi working mom, pilihannya Lana harus disekolahin. Sebelom berangkat kerja, saya dan Iyay nganterin Lana ke daycare-nya, maen sebentar dan ninggalin. Setiap ngelangkahin kaki meninggalkan sekolahnya, rasanya pengen nangis, pengen teriak, saya ibu yang egois,memilih kerja diluar daripada merawat anak dirumah L Perasaan itu selalu muncul tiap hari bahkan hingga detik ini.
Kemaren, ketika saya udah pamitan, udah dadah-dadahan, cipika cipiki, tiba-tiba lari ngejar saya manggil “ndaaaaaaaaaaaa…, ndaaaaaaa” (Bunda), meluk dan gak ngijinin untuk pergi. Berusaha saya tenangin, cerita, dan ngejelasin bahkan sempat saya nyanyi-nyanyi, Ngajakin masuk ke kelas ambil maenan favoritnya, dan ketika udah mulai tenang saya pamitan, tapi tidak seperti biasanya yang dadah-dadahin sambil, senyum dan kiss bye, namun kali ini tidak.
Di angkot, saya pengen nangis, saya sms suami cerita tentang ini dan kebetulan Iyay belum mereply sms saya kirim. Maafkan saya nak, maafkan saya Iyay. Mungkin saya termasuk Ibu dan Istri yang egois semoga kalian mengerti posisi Bunda, Bunda sayang sama kalian. Apa yang bunda pilih dan kerjakan sekarang ini untuk kita semua, untuk Lana khususnya.
I Love u Both :)