Mrs/3daysafter

My flat shoes

Gara-gara tweet Aini tentang flatshoes wondershoe di Twitter kemaren, saya tiba-tiba kepikiran menulis tentang flatshoes. Yak, saya pencinta berat jenis sepatu ini. Bisa dibilang, sepatu yang saya punya selama ini (mulai dari kuliah sampai saya kerja), Cuma 2 (dua) yang high heels, selebihnya flatshoes. Kenapa? High heels bukan tipe gue banget. Saya bukan tipe feminim absolute. High heels gak bisa dibawa lari, susah dibawa jalan cepet, dan saya kalo jalan termasuk cepet. Kekantor? Gak pernah pake highheels. Dulu pernah sekali (waktu pertama kali masuk kerja), saya pake highheels 5cm, dan waktu makan siang saya ‘nyeker’ lepas sepatu dan jalan balik kekantor, karena pegel. Inisih Karena saya gak terbiasa aja sepertinya, hehehee.

Beberapa flatshoes andalan saya yang selalu menemani saya kekantor setiap pagi ataupun maen.

1. Flatshoes Zara Girls

Zara

Ini nyaman banget dipake, ringan dan enak banget. Suka juga dengan warnanya. Bahannya leather dan suka sama modelnya yang  mirip sepatu ballet. Dulunya pengen beli sepasang buat Lana juga, tetapi sayang ukuran untuk kaki Lana udah sold out. Dan  tahukah ukuran sepatu ini? Dengdingdeng, no.34 (Imut banget ya kaki gue :p) dan nemunya di Zara Kids.

2. Flatshoes CrocsLady Hampir tiap hari pake sepatu ini, Ringan banget. Sebenarnya saya tidak terlalu suka sama Crocs, karena waktu itu sale 50% (naluri ibu-ibu belanja), dan muat di kaki saya dengan ukuran no.5-nya, akhirnya got this shoes. Pengalaman pribadi, saya sangat susah nyari sepatu, jarang yang muat dikaki mungil saya ini soalnya. Huhuuuu..

Crocs

3. Flatshoes Marie Claire Beli di Senayan City, kalo inisih memang sengaja nyari sepatu yang model seperti ini. Dan nemu akhirnya beli. Udah jarang banget dipake, karena udah bulukan dan sebenarnya sepatu ini kegedean dikaki saya, padahalnya nomornya 35. Dan sepatu ini sudah tersimpan rapih di box-nya.

Marie Claire

4. Melissa Bubbles

Melissa Bubbles

Kalo ini, belinya gak sengaja dan gak niat untuk beli sepatu. Dari dulu sebenarnya naksir banget dengan shoesnya Melissa. Flatshoes ini beli di Happy Go Lucky – Bandung, waktu itu jalan-jalan kesana ditemani keluarga Burung. Sebenarnya lagi nyari sweater tapi entah kenapa nyasar ke toko ini. Dan pas ngeliat Melissa sale 40% dan ada nomor kecilnya, doh langsung deh tertarik. Awalnya sih gak pengen beli. Tapi karena ‘sedikit dipaksa’ ma Iyay dan dikompor-komporin sama Nyanya, akhirnya beli juga. Makasih Iyay, baik banget sih kamu :p

Iyay & Basket Ball

Dulu, Iyay selalu bilang ke saya, kalo dia bisa maen basket, malah termasuk sangat Bisa. Konon waktu masih SMA di Bandung, dia selalu mewakili SMU nya disetiap pertandingan Basket, pernah masuk koran Bandung dan malah pernah ikut tes Porda, tetapi gak lolos. Namun, selama pacaran, sekalipun gak pernah liat dia maen Basket, sisa baju atau apa kek pernak-pernik Basket gak pernah saya liat, jadi wajar kalo saya gak percaya semua itu. Alasannya, Iyay itu kurus, ceking, gak tinggi-tinggi amat. Dan persepsi saya tentang pemaen basket itu adalah tinggi, badan atletis, lucu, nah ini Iyay, nggak banget *Sorry Hon* :D

Nah seminggu yang Lalu, dia tiba-tiba ym! nanyain saya ada acara gak hari Minggu, dia ngajakin saya nonton maen basket sama temen-temen sekantornya dia. Pengen banget dong, biar terjawab pertanyaan saya selama ini apakah bener Iyay ini bisa maen basket? :p Kebetulan kantornya Iyay nyewa salah satu sport hall di daerah Pluit (God, Pluit? Jauh banget). Pagi ini, kita berangkat pagi-pagi dari Bogor, bawa Lana biar bisa jadi saksi kalo ayahnya bisa maen basket. Tiba disana dikenalinlah sama boss dan temen-temennya Iyay dan atasan Iyay dikantor. Dan ternyata terjawab juga pertanyaan saya selama ini, suami saya ini bisa juga maen basket, jagolah :D

Maen basket bersama tim Yahoo! Indonesia. Foto lengkapnya bisa dilihat disini juga yaa :)

last picture: Lana ditemenin mickey nonton ayah lagi maen basket :)

IPB-ISFA Early Child Education & Development Labschool

Ketika saya memutuskan untuk mulai kerja kantoran (working mom), saya berniat untuk masukin Lana ke PG dengan alasan Lana bisa bermain, bereksplorasi tanpa saya dirumah. Bagaimana caranya? Mengandalkan ART? Tidak mungkin. Karena saya tahu kebiasaan ART Saya, dan akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan Lana. Setelah hunting ke beberapa PG di Bogor, akhirnya memutuskan untuk nyekolahin Lana di sini, di LabSchool Pendidikan Holistik & Karakter IPB-ISFA. Sebenarnya, usia minimal untuk memasuki kelas PG adalah 2 (dua) tahun, namun setelah konsultasi dengan psikolog di sekolah tersebut, dan psikolognya melihat langsung interaksi Lana selama trial, akhirnya diperbolehkan meskipun Lana usianya belum 2tahun ketika itu.

Di sekolah ini menerapkan kurikulum dan metode pembelajaran pendidikan holistic berbasis karakter yang dikembangkan oleh IHF (Indonesia Heritage Foundation) untuk membentuk anak secara holistic (fisik, emosi, social, kreatifitas, spiritual, kognitif, dan karakter). Menggunakan dua bahasa pengantar (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris), memiliki mutu pendidikan yang baik karena merupakan hasil kerjasama IPB dan ISFA (Indonesia Singapore Friendship Association), serta tenaga pengajarnya adalah lulusan sarjana di bidang tumbuh kembang anak, keluarga, dan Gizi.

Ada beberapa program yang disediakan di LabSchool ini, yaitu :

  1. Kinder, khusus untuk usia 4-6 tahun
  2. Play Group (PG), khusus untuk usia 2-4 tahun
  3. Daycare
  4. After School Program. Program yang menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang disesuaikan dengan minat anak, seperti menyanyi, menari, menggambar, belajar Bahasa Inggris, dsb.

Akhirnya saya pun memasukkan Lana ke Playgorup dan daycare. Playgroup hanya berlangsung 2x seminggu (selasa dan Kamis) dengan durasi 3jam, selebihnya Lana ikut program daycare. Makan dan ruang tidur disiapkan, dari rumah cukup membawa susu dan pakaian ganti anak. Makan siang dan snack disiapkan oleh sekolah ini, dengan menu berbeda setiap harinya dan makanan/snack yang disajikan disesuaikan dengan standard gizi yang sudah ditentukan.

Fasilitas yang disediakan oleh Labschool IPB ini diantaranya:

Fasilitas dalam ruang meliputi: Ruang kelas 6 unit dengan aneka buku dan sentra, Indoor playground dengan sentra gerak motorik dan perpustakaan, Ruang Kepala Sekolah dan Guru, Ruang Tamu, Dapur, Toilet, Ruang Makan, Mushollah. Sementara Fasilitas Luar Ruangan meliputi: Halaman / outdoor playground, taman/kebun, lapangan rumput, teras, bak pasir, tempat parkir dan pos satpam. Setiap bulan diadakan outing dengan tema berbeda tiap bulannya. Seperti outing bulan Ini, Murid diajak ke toko dan pemancingan Ikan.

Setiap minggunya, pengajar memberikan buku penghubung kepada setiap orang tua yang isinya perkembangan dari berbagai aspek holistik dari tiap anak setiap minggunya. Jadi orang tua pun tahu kegiatan anak tiap minggu. Diharapkan agar apa yang terjadi selama disekolah bisa dipraktekkan dirumah ataupun sebaliknya. Paling menarik dari sekolah ini adalah bimbingan dari psikolog anak secara gratis. Saya inget beberapa bulan lalu, Guru Lana berdiskusi dengan saya mengenai perubahan perilaku Lana yang kurang disiplin, suka memukul, berteriak, kadang-kadang suka mendorong. Bahkan dirumah pun sering berperilaku seperti itu. Dengan arahan dan bimbingan bagaimana cara menangani perubahan perilaku Lana tersebut. Lana sudah jarang sekali teriak bahkan memukul, sekarang dia lebih senang memeluk dan cium sambil berkata “nana eyuk nda, nana ayang ndaa” (lana peluk Bunda, Lana sayang Bunda). Over all, saya sangat puas dengan sekolah ini.

Labschool Pendidikan Karakter IPB-ISFA

Jl. Cikabuyutan No.1 Baranangsiang, Bogor 16144. Telp 0251-8321105

Lana: you’re not [baby] anymore

Tanggal 14 Desember 2010 kemaren, tepatnya sebulan yang lalu Lana berusia 2tahun. Meskipun udah lewat, tapi nulis tentang Lana gak akan pernah ada basinya. Sengaja blog ini saya banyak nulis tentang Lana, yang kelak dia bisa baca cerita tentang indahnya kehidupan dan perkembangan dia dari waktu ke waktu, dan betapa Bunda dan Ayahnya bangga akan Lana.

Sebenarnya gak ada yang spesial di birthday Lana kali ini, tidak seperti diusia dia setahun yang lalu, dimana saya dan Iyay sepakat merayakannya. Namun kali ini, tidak. Hanya cake blueberry small dan lilin angka 2 yang ada, namun semuanya menjadi spesial ketika saya & Iyay nyanyi happy birthday, Lana ikut tepok tangan dan nyanyi, dan bisa niup Lilin, husssss “yiyin ati (lilin mati)”, ucapnya :D. Saya dan Iyay menyediakan 2 bungkusan kado sebagai hadiah Ulang tahunnya. Playdoh dari Bunda dan Backpack Skiphop dari Ayah.

Rasanya waktu terlalu cepat berlalu. Baru kemaren saya merasakan sakitnya karena c-section yang mengharuskan Lana keluar sebelum duedate-nya, baru kemaren ngajarin Lana tengkurap, duduk, berdiri, jalan, sekarang udah bisa lari, teriak, nyanyi, marahin Bunda-nya, rebutan henpon, makan sendiri, gosok gigi sendiri. Namun, masih banyak pula pe-er yang harus dikerjakan sebagai orang tua, masih banyak waktu yang digunakan untuk dihabiskan bersama Lana. Dan masih banyak pelajaran hidup yang harus dibagi. Dan paling penting menjadikan Lana sebagai makhluk yang takut akan Tuhan dan mencintai Tuhan, Amin.

Happy birthday anakku, nafasku, hidupku. Berjuanglah selalu dijalan yang benar, jangan pernah takut, ada Bunda dan Ayah yang selalu menjagamu. kelak kau akan mengerti, betapa bangganya Bunda dan Ayah akan dirimu. I Love u my baby, oh No, you’re not Baby anymore..

Ketika menjadi working mom

Ketika menjadi working mom, rutinitas saya akhirnya berubah, hampir 180° berubah. Mulai dari jadwal bangun pagi, kegiatan bersama Lana yang  berkurang kuantitasnya, jarang ngeblog, dan jarang browsing lagi. Padahal semenjak Iyay menjadi working dad yang dulu-nya sebagai SAHD, leptopnya diwariskan ke saya dengan maksud yaa supaya saya tetap masih bisa browsing, ngeblog, dan ber-social networking. Tapi tetap aja, kalau udah pulang kerumah, maen sama Lana, ngelonin sampai tidur, makan dan ikutan tidur :)

Namun yang selalu menjadi dilemma hingga saat ini, adalah perasaan berat meninggalkan Lana di daycare. Ketika memutuskan untuk menjadi working mom, pilihannya Lana harus disekolahin. Sebelom berangkat kerja, saya dan Iyay nganterin Lana ke daycare-nya, maen sebentar dan ninggalin. Setiap ngelangkahin kaki meninggalkan sekolahnya, rasanya pengen nangis, pengen teriak, saya ibu yang egois,memilih kerja diluar daripada merawat anak dirumah L Perasaan itu selalu muncul tiap hari bahkan hingga detik ini.

Kemaren, ketika saya udah pamitan, udah dadah-dadahan, cipika cipiki, tiba-tiba lari ngejar saya manggil “ndaaaaaaaaaaaa…, ndaaaaaaa” (Bunda), meluk dan gak ngijinin untuk pergi. Berusaha saya tenangin, cerita, dan ngejelasin bahkan sempat saya nyanyi-nyanyi, Ngajakin masuk ke kelas ambil maenan favoritnya, dan ketika udah mulai tenang saya pamitan, tapi tidak seperti biasanya yang dadah-dadahin sambil, senyum dan kiss bye, namun kali ini tidak.

Di angkot, saya pengen nangis, saya sms suami cerita tentang ini dan kebetulan Iyay belum mereply sms saya kirim. Maafkan saya nak, maafkan saya Iyay. Mungkin saya termasuk Ibu dan Istri yang egois semoga kalian mengerti posisi Bunda, Bunda sayang sama kalian. Apa yang bunda pilih dan kerjakan sekarang ini untuk kita semua, untuk Lana khususnya.

I Love u Both :)